Suatu ketika, ada seorang murid laki-laki yang sangat
pemarah. Bermaksud untuk mengurangi sifat marah si murid tersebut, sang guru kemudian
mendatangi muridnya dan memberikan sekantong paku. Sang guru berkata kepada
muridnya agar memakukan satu buah paku di pagar setiap kali murid itu marah.
Di hari pertama, si murid itu sudah memakukan 57 paku ke
pagar, di hari kedua si murid memakukan 49 paku, lalu setiap hari jumlah nya
berkurang. Murid pemarah itu akhirnya menyadari bahwa ternyata lebih mudah menahan
amarahnya daripada memakukan paku ke pagar.
Akhirnya, tibalah hari dimana murid tersebut merasa sudah bisa
mengendalikan amarahnya dan tidak cepat kehilangan kesabarannya. Dia mendatangi
sang guru kemudian sang guru menyuruhnya agar mencabut satu paku jika dalam
satu hari dia tidak marah.
Hari berlalu dan akhirnya semua paku telah dicabut oleh
murid tersebut. Dia mendatangi lagi sang guru lalu sang guru menuntun murid
tersebut ke pagar. “Kamu sudah berhasil muridku, tapi lihatlah lubang-lubang di
pagar ini. Pagar ini tidak akan pernah bisa sama seperti sebelumnya. Ketika kamu
mengatakan sesuatu dalam kemarahan, maka kata-katamu akan meninggalkan bekas
seperti lubang ini di hati orang lain. Kamu dapat menusukkan pisau pada
seseorang, lalu mencabut pisau itu, tapi tidak peduli berapa kali kamu meminta
maaf, luka itu akan tetap ada, dan luka yang disebabkan oleh kata-kata sama
buruknya dengan luka fisik”